I. Pendahuluan
Sudah kita mafhum bahwa banyak faktor yang turut menentukan kualitas
pendidikan, seperti mutu masukan (siswa), sarana, manajemen, kurikulum,
dan faktor-faktor instrumental serta eksternal lainnya. Tetapi mengingat
peranan strategis guru dalam setiap upaya peningkatan kualitas,
relevansi, inovasi, dan efisiensi pendidikan maka salah satu komponen
yang sangat menentukan bagi keberhasilan upaya tersebut adalah guru,
khususnya peningkatan profesionalisme guru . Di sisi lain, profesi guru
sepanjang waktu selalu saja mendapat sorotan tajam. Dewasa ini tidak
sedikit gambaran atau wacana yang diangkat untuk menunjukkan citra guru
sedang dituding menurun bersamaan dengan pencitraan penghargaan
masyarakat - dan juga pemerintah - yang mulai terkesan proporsional
dan professional terhadap profesi guru dengan fungsinya yang strategis.
Meskipun demikian sebagai suatu bangsa yang besar dan masih senantiasa
menghargai profesi guru sebagai pembimbing dan pengembang sumber daya
manusia menghadapi masa depan, suara dukungan dan upaya bagi
pengembangan profesi guru akhir-akhir ini sangat menggembirakan. Salah
satunya adalah transformasi IKIP sebagai lembaga pembinaan profesi guru
menjadi universitas, serta ditingkatkannya kewenangan PGSD untuk
menyelenggarakan program S1 bagi guru-guru SD yang sudah memiliki masa
kerja tertentu. Transformasi ini bertujuan antara lain agar dalam format
manajemen Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang baru,
mampu dihasilkan calon-calon guru yang lebih professional. Calon guru
professional ini harus mampu mengantisipasi, menjalani, dan memberikan
solusi bagi tantangan masa kini dan masa depan yang makin global,
transparan, kompleks, dan kompetitif.
Alih-alih menurun, sejak kini hingga masa depan tantangan profesi
keguruan semakin meningkat. Dalam Mengangkat Citra dan Martabat Guru
(Dedi Supriadi, 1999:73-74) mengangkat suatu tantangan yang harus siap
dihadapi guru dan pada saat yang sama harus dicarikan solusinya oleh
berbagai pihak terkait (birokrasi dan organisasi kependidikan). Salah
satunya berkaitan dengan masalah ekologi profesi bagi guru, terutama
guru SD. Pekerjaan guru (mendidik) yang mulia dan seharusnya
menyenangkan, seringkali malah menjadi sumber ketegangan lantaran iklim
dan kondisi kerja yang terlalu sarat dengan beban tugas-tugas birokrasi,
beban sosial-ekonomi dan tantangan kemajuan karir yang terkait erat
dengan jaminan hak-hak kesejahteraan guru. Dalam hal beban birokrasi,
guru (SD) harus berhadapan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin administrasi
yang bukan tugas-tugas profesional. Beban sosial antara lain terkait
dengan tuntutan masyarakat yang masih memandang bahwa guru (SD) adalah
sosok manusia serba tahu dan serba bisa. Tidak sedikit orangtua yang
memiliki tuntutan yang melampaui kemampuan guru (SD) agar anak mereka
menjadi serba bisa sebagaimana yang diharapkan. Selain itu, kondisi
objektif di lapangan sangat mungkin guru (SD) menghadapi pengaruh
kemajuan ilmu pengetahuan, informasi, dan teknologi -termasuk masalah
kependidikan, yang menuntut dirinya harus lebih profesional dan bahkan
siap 'bersaing' dengan peserta didik dalam hal itu. Beban-beban yang
sudah berat itu, makin menjadi kompleks manakala guru (SD) -terutama
yang hidup dikota - juga harus berjuang meningkatkan kemampuan finansial
dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang memang masih jauh dapat
dipenuhi dengan gaji mereka. Kondisi semua ini, dapat diprediksi kuat
akan sangat berpengaruh timbale balik terhadap profil psikologis guru.
Beranjak dari paparan di atas, tugas professi guru masa depan sangat
berat. Ia bukan saja harus memiliki sejumlah kompetensi akademis semisal
penguasaan materi pelajaran, kepiawaian dalam merancang, mengelola, dan
mengevaluasi pembelajaran dengan berbagai metode mutakhir, serta
terampil dalam menggunakan alat peraga dan media pembelajaran; melainkan
juga ia harus memiliki kematangan dan ketegaran kepribadian. Aspek
kepribadian sebagai unsur penting dalam kinerja guru profesional
akhir-akhir ini mulai banyak diangkat kembali oleh para pakar setelah
selama waktu yang cukup panjang tersisihkan oleh gencarnya pembahasan
teknis metodologis mengajar dengan landasan gagasannya diangkat dari
aliran-aliran Behavioristik: teori belajar, conditioning, hukum
pengaruh, dan Kognivistik. (Dedi Supriadi, 1999:10; Mohamad Surya,
2003:43: H.A.R Tilaar, 1999:295). Salah satu aspek yang berkaitan dengan
kematangan dan ketegaran kepribadian adalah kecerdasan emosi (Emotional
Intelligence) atau Emotional Quotient (EQ). Kecerdasan ini berkaitan
antara lain dengan kemampuan seseorang (guru) dalam mengelola emosi
terhadap diri dan orang lain, menghadapi kesulitan dan kesuksesan hidup,
kasih sayang, cinta kasih yang tulus, dan tanggung jawab. Sehubungan
dengan tugas berat guru (SD) di masa depan, maka jelas tidak bijaksana
kalau LPTK penghasil calon guru tidak mempersiapkan mereka dengan
pembinaan yang menjadikannya sebagai calon guru yang memiliki kematangan
kepribadian dengan kecerdasan emosi yang optimal. Pembinaan ini sangat
erat kaitannya dengan tugas-tugas bimbingan dan konseling. Sehubungan
dengan itu maka peran Bimbingan dan Konseling -yang selama ini 'guru
yang dibina' terkesan disiapkan dan diperuntukkan untuk memenuhi
kebutuhan di pendidikan dasar dan menengah - harus secara organik dan
resmi difungsikan di LPTK
Makalah ini ditulis dengan tujuan menegaskan kembali perlunya para
pengelola dan pembina LPTK khususnya PGSD -terutama para dosen mata
kuliah dan petugas Bimbingan dan Konseling- untuk secara
bersungguh-sungguh berorientasi kepada upaya aktualisasi karakteristik
calon guru yang professional dalam berbagai penyelenggaraan perkuliahan.
Selain itu, berdasarkan temuan-temuan inovatif serta tuntutan realistis
maka harus ada program untuk mengakrabkan para mahasiswa calon guru
terhadap konsep-konsep kecerdasan emosi, serta melakukan studi untuk
mengetahui peta atau profil kecerdasan emosional (EQ) civitas akademika
di lingkungan kerja LPTK (dosen, karyawan, atau aktivis kampus). Hasil
studi ini selanjutnya dapat dijadikan sebagai titik tolak pembinaan
mahasiswa calon guru terutama dalam hal memfasilitasi pengem-bangan
kecerdasan emosi mereka. Hal itu didasarkan pada suatu asumsi dasar
sebagaimana dikemukakan Gottman & DeClaire (1998:2) bahwa menjadi
pengelola pendidikan (guru) yang baik membutuhkan lebih dari pada
sekedar intelek, melainkan menyentuh dimensi kepribadian dan kematangan
emosi. Permasalahannya adalah, bagaimanakah profil guru (SD) profesional
itu? Serta bagimana pula profil kecerdasan emosi? yang sudah barang
tentu kedua hal itu harus dimiliki guru (SD) dalam menjalankan
profesinya serta mengantisipasi tuntutan kekinian dan masa depan yang
akan dihadapi.
Sistimatika makalah sangat sederhana. Setelah pendahuluan di bagian
pertama, pada bagian kedua akan disajikan kajian singkat teori berkenaan
dengan karakteristik guru (SD) profesional dan konsep-konsep dasar
kecerdasan emosi; setelah itu data/informasi pendukung dan hasil studi
terdahulu beserta diskusi dan pembahasan akan disajikan pada bagian
ketiga; dan akhirnya bagian akhir memuat kesimpulan dan saran.
II. Guru SD Masa Depan: Profesional Dan Kecerdasan Emosi
A. Profesionalisme Guru
1. Pengertian dan Ciri-ciri Profesi
Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan, guru memiliki posisi sentral dan
strategis. Karena posisinya tersebut, baik dari kepentingan pendidikan
nasional maupun tugas fungsional guru, semuanya menuntut agar pendidikan
dilaksanakan secara profesional. Pembahasan tentang guru profesional
terkait dengan beberapa istilah, yaitu profesi, profesional itu sendiri,
profesionalisme, profesionalisasi, dan profesionalitas.
Profesi adalah pernyataan pengabdian pada suatu pekerjaan atau jabatan
(Piet A Sahertian, 1994:26), dimana pekerjaan atau jabatan tersebut
menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan terhadap profesi. Suatu
profesi secara teori tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.
Profesional menunjuk pada orang atau penampilan seseorang yang sesuai
dengan tuntutan yang seharusnya. Profesionalisasi menggambarkan proses
menjadikan seseorang sebagi profesional melalui pendidikan.
Profesionalisme menunjuk pada derajat penampilan seseorang sebagai
profesional atau penampilan suatu pekerjaan sebagai suatu profesi yang
menyangkut sikap, komitmen, dan kode etik; profesionalisme bisa tinggi,
sedang, atau rendah. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan
keprofesiaan biasa disebut profesionalitas (Dedi Supriadi, 1999:94-95).
Penting untuk dicermati bahwa profesi memiliki beberapa ciri pokok.
Menurut Dedi Supriadi (1999:96) cirri-ciri tersebut ialah, pertama,
pekerjaan tersebut mempunyai fungsi dan signifikansi sosial karena
diperlukan mengabdi kepada masyarakat. Kedua, profesi menuntut
keterampilan tertentu yang diperoleh lewat pendidikan dan latihan yang
'lama' dan intensif serta dapat dipertanggungja-wabkan (accountable).
Ketiga, profesi didukung oleh suatu disiplin ilmu (a systematic body of
knowledge). Keempat, ada kode etik yang menjadi pedoman perilaku
anggotanya beserta sanksi yang jelas dan tegas terhadap pelanggar kode
etik. Kelima, sebagai konsekuensi dari layanan yang diberikan terhadap
masyarakat, maka anggota profesi secara perorangan atau kelompok
memperoleh imbalan finasial atau material.
2. Guru Profesional
Proses pendidikan di dalam masyarakat yang semakin maju, demokratis dan
terbuka menuntut suatu interaksi antara pendidik dan peserta didik
secara profesional. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh guru profesional,
yaitu guru yang memiliki karakteristik profesionalisme. Guru
profesional adalah guru yang memiliki keahlian, tanggung jawab, dan rasa
kesejawatan yang didukung oleh etika profesi yang kuat. Untuk itu ia
harus telah memiliki kualifikasi kompetensi yang memadai: kompetensi
intelektual, sosial, spiritual, pribadi dan moral (Mohamad Surya,
2003:28). Sedangkan H.A.R Tilaar (1999:205) menggagaskan profil guru
profesional abad 21 sebagai berikut.
1) Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang (mature and
developing personality) sebagaimana dirumuskan Maister 'professionaism
is predominantly an attitude, not a set of competencies only. Ini
berarti bahwa seorang guru profesional adalah pribadi-pribadi unggul
terpilih;
2) Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat. Melalui dua hal
ini seorang guru profesional akan menginspirasi anak didiknya dengan
ilmu dan teknologi. Guru profesional semestinya ia adalah 'ilmuwan' yang
dibentuk menjadi pendidik.
3) Menguasai keterampilan untuk membangkitkan minat dan potensi peserta
didik. Oleh karena itu seorang guru profesional harus lah menguasai
keterampilan metodologis membelajarkan siswa. Karakteristik ini yang
membedakan profesi guru dari profesi lainnya. Jika karakteristik ini
tidak secara sungguh-sungguh dikuasai guru, maka siapa saja dapat
menjadi 'guru' seperti yang terjadi sekarang ini. Akibat lebih lanjut
dari ini adalah profesi guru akan kehilangan 'bargaining position'.
4) Pengembangan profesi yang berkesinambungan. Propesi guru adalah
profesi mendidik. Seperti halnya ilmu mendidik yang senantiasa
berkembang, maka profil guru profesional adalah guru yang terus menerus
mengembangkan kompetensi dirinya. Pengembangan kompetensi ini dapat
dilakukan secara institusional (LPTK), dalam praktik pendidikan, atau
secara individual.
Sejalan dengan gagasan HAR Tilaar di atas, Dedi Supriadi (1999:98)
mengutip Jurnal Education Leadership edisi Maret 1993 mengenai lima hal
yang harus diraih guru agar menjadi profesional. Kelima hal tersebut
adalah.
1) Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti
bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswanya.
2) Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya kepada para siswa.
3) Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai
teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes
hasil belajar.
4) Guru mampu berpikir sistimatis tentang apa yang dilakukannya, dan
belajar dari pengalamannya. Artinya, harus selalu ada waktu bagi guru
guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah
dilakukannya. Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana
yang benar dan salah, serta baik buruk dampaknya pada proses belajar
siswa.
5) Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.
Kelima hal di atas amat sederhana dan pragmatis. Justru karena keseder-hanaan itu akan membuat sesuatu mudah dicapai.
Untuk meneguhkan kesuksesan kinerja pendidik sebagai guru profesional
dan merupakan jabatan strategis dalam membangun masyarakat, Mohamad
Surya (2003:290-292) menekankan perlunya seorang guru memiliki
kepribadian efektif. Kepribadian merupakan keseluruhan perilaku dalam
berbagai aspek yang secara kualitatif akan membentuk keunikan atau
kekhasan seseorang dalam interaksi dengan lingkungan di berbagai situasi
dan kondisi. Kepribadain efektif seorang guru adalah kepribadian
berkualitas yang mampu berinteraksi dengan lingkungan pendidikan yang
sebaik-baiknya agar kebutuhan dan tujuan pendidikan dapat tercapai
secara efektif.
Kepribadian efektif memiliki sejumlah kompetensi yang bersumber pada
komponen penguasaan subyek (materi pelajaran), kualitas profesional,
penguasaan proses, kemampuan penyesuaian diri, serta kualitas
kepribadiannya. Kepribadian efektif akan terwujud melalui berfungsinya
keseluruhan potensi manusiawi secara penuh dan utuh melalui interaksi
antara diri dengan lingkungannya. Menurut William D. Hitt (1993) potensi
manusiawi itu antara lain adalah daya nalar yang bertumpu pada empat
jenjang anak tangga berupa:
(1) Coping, yaitu kemampuan untuk melakukan tindakan dalam menghadapi dunia sehari-hari dengan baik;
(2) Knowing, yaitu kemampuan memahami kenyataan dan kebenaran dunia sehari-hari;
(3) Believing, keyakinan yang melandasi berbagai tindakan, dan
(4) Being, yaitu perwujudan diri yang otentik dan bermakna.
Jika kita cermati karakteristik kepribadian efektif sebagaimana
diuraikan di atas, nampak bahwa unsur-unsurnya erat berkaitan dengan
faktor-faktor kompetensi dan potensi psikologis seseorang. Salah satu
potensi psikologis manusia yang saat ini mendapat kajian intensif karena
diyakini sebagai salah satu penentu dominant bagi efektif tidaknya
kepribadian seseorang dalam berinteraksi dan mengatasi persoalan hidup
sehari-hari adalah kecerdasan emosi (EQ, Emotional Quotient).
B. Kecerdasan Emosi
1. Pusat Kecerdasan Emosi dan Kecerdasan Rasional dalam Otak.
Otak manusia adalah massa protoplasma yang paling kompleks yang pernah
dikenal di alam semesta. Organ ini terdiri dari tiga bagian dasar,
masing-masing dengan struktur saraf tugas-tugas tertentu, yang oleh Dr.
Paul McLean (1990) disebut "otak triune". Ketiga bagian tersebut adalah:
batang atau otak reptil, sistem limbik atau otak mamalia, dan
neokorteks (Bobbi DePorter & Mike Hernacki;1999).
Dalam buku Quantum Learning dijelaskan bahwa bagian manusia yang disebut
otak mamalia (sistem limbik) bertanggung jawab atas fungsi-fungsi
emosional dan kognitif serta pengaturan bioritme seseorang, seperti pola
tidur, lapar, haus, tekanan darah, gairah seksual, dan metabolisme
dalam tubuh. Dalam mekanisme yang terjadi pada sistem limbik inilah
kecerdasan emotional (EI = Emotional Intelligence, nama lain dari EQ)
seseorang ditentukan.
Joseph LeDoux (1992) seorang ahli saraf di Center for Neural Science di
New York University mengungkapkan bahwa dalam saat-saat yang kritis
kecerdasan emosi akan lebih cepat menentukan keputusan dari pada
kecerdasan intelektual. Hal itu sejalan dengan kajian Dr. Jalaluddin
Rakhmat (1999) yang menyimpulkan bahwa kecerdasan emosi sangat
mempengaruhi manusia dalam mengambil keputusan. Bahkan tidak ada satu
pun keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasional kerena
seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional.
2. Konsep Dasar Kecerdasan Emosi
Istilah "Emotional Intelligence, kecerdasan emosional" - selanjutnya
disebut kecerdasan emosi - pertamakali dilontarkan pada tahun 1990 oleh
psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari
University of New Hampshire. Kecerdasan ini berhubungan dengan
kualitas-kualitas psikologis tertentu yang oleh Salovey dikelompokkan ke
dalam lima karakter kemampuan:
(1) Mengenali emosi diri; wilayah ini merupakan dasar kecerdasan emosi.
Penguasaan seseorang akan hal ini akan memiliki kepekaan atas
pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi.
(2) Mengelola emosi; kecerdasan emosi seseorang pada bagian ini
ditunjukkan dengan kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan
kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan sehingga dia dapat bangkit
kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam
kehidupan.
(3) Memotivasi diri sendiri; kecerdasan ini berhubungan dengan
kamampuan seseorang dalam membangkitkan hasrat, menguasai diri, menahan
diri terhadap kepuasan dan kecemasan. Keberhasilan dalam wilayah ini
akan menjadikan seseorang cenderung jauh lebih produktif dan efektif
dalam hal apa pun yang mereka kerjakan.
(4) Mengenali emosi orang lain. Berkaitan erat dengan empati, salah satu
kecerdasan emosi yang merupakan "keterampilan bergaul" dasar. Orang
yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi
yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang
lain.
(5) Membina hubungan. Seni membina hubungan, menuntut kecerdasan dan
keterampilan seseorang dalam mengelola emosi orang lain. Sangat
diperlukan untuk menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan
antar pribadi.
3. Kecerdasan Emosi Eksekutif.
Kecerdasan Emosional Eksekutif (EQ-Executive) secara singkat dapat
diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dalam rangka
menghadapi dan memberikan tindakan antisipasi maupun solusi terhadap
prob-lematika yang dhadapi dalam menjalankan profesi dalam suatu
intitusi. Berdasarkan gagasan Robert K Cooper & Ayman Sawaf (2001),
EQ-Executive yang akan analisis dalam penelitian ini didasarkan kepada
empat pilar utama:
(1) Kesadaran Emosional Literasi; bertujuan membangun tempat kedudukan
bagi kepiawaian dan rasa percaya diri pribadi melalui kejujuran emosi,
energi emosi, umpan balik emosi, intuisi, rasa tanggung jawab dan
koneksi.
(2) Kebugaran emosi; bertujuan mempertegas kesejatian, sifat dapat
dipercaya, dan keuletan, memperluas kepercayaan, dan kemampuan
mendengarkan, mengelola konflik dan mengatasi kekecewaan dengan cara
palinmg konstruktif.
(3) Kedalaman emosi (emotional deepth); mengeksplorasi cara-cara
menye-laraskan hidup dan kerja dengan potensi serta bakat unik
seseorang, mendukungnya dengan ketulusan, kesetiaan pada janji, rasa
tanggung jawab yang pada gilirannya memperbesar pengaruh tanpa mengobral
kemenangan.
(4) Al-kimia emosi (emotional alchemi); memperdalam naluri dan kemampuan
kreatif untuk mengalir bersama masalah-masalah dan tekanan-tekanan dan
bersaing demi masa depan dengan membangun ketarampilan untuk lebih peka
akan adanya kemungkinan-kemungkinan solusi yang masih tersembunyi dan
peluang yang masih terbuka.
Indikator-indikator yang menunjukkan seberapa jauh karakter-karakter
dari masing-masing pilar di atas terdapat pada diri seseorang dalam
penelitian ini akan diungkap dengan instrumen EQ_MAPTM. Instrumen ini
merupakan hasil penelitian yang mendalam, andal secara statistik dan
teruji secara baku terhadap tenaga kerja di USA dan Kanada. Instrumen
ini berupaya mengungkap 21 skala profil kecerdasan eksekutif yaitu:
(1) Peristiwa dalam hidup (12) Belaskasihan
(2) Tekanan pekerjaan (13) Cara pandang
(3) Tekanan masalah pribadi (14) Intuisi
(4) Kesadaran diri emosi (15) Radius kepercayaan
(5) Ekspresi emosi (16) Daya pribadi
(6) Kesadaran emosi terhadap orang lain (17) Integritas
(7) Intensionalitas (18) Kesehatan umum
(8) Kreativitas (19) Kualitas hidup
(9) Ketangguhan (20) Relatioship Quotient
(10) Hubungan interpersonal (21) Kinerja Optimal
(11) Ketidakpuasan konstruktif
Dalam EQ-Map dua puluh satu skala profil EQ-eksekutif di atas
selanjutnya dibagi ke dalam lima kategori. Kelima kategori tersebut
adalah: Situasi saat ini, Keterampilan Emosi, Kecakapan Emosi,
Nilai-nilai EQ dan Keyakian, dan Hasil-hasil EQ.
a. Situasi Saat Ini
Kategori ini menggambarkan profil seberapa besar kualitas emosi seorang
pekerja dalam menghadapi berbagai peristiwa yang dialami baik di
keluarga, masyarakat maupun tempat yang bersangkutan bekerja. Hal
tersebut meliputi:
1) Peristiwa dalam Hidup
Berkaitan dengan ketangguhan seseorang dalam menghadapi berbagai
peristiwa keseharian yang secara umum bisa berfungsi sebagai sumber
keter-tekanan (stress). Peristiwa tersebut misalnya: ancaman
diberhentikan, keluar, atau pensiun; berhadapan dengan pekerjaan baru
atau pimpinan baru; penciutan atau perubahan struktur kepegawaian di
tempat kerja; kerugian finansial atau berkurangnya pendapatan; kematian
seseorang teman dekat atau keluarga; ber-pindah, relokasi atau membeli
rumah baru; kehadiran anggota baru dalam rumah tangga atau bertambahnya
tanggungjawab dalam keluarga; menjadi kor-ban kejahatan atau berhadapan
dengan masalah hokum; atau sakit atau cedera serius yang menimpa diri
sendiri atau teman dekat/keluarga.
2) Tekanan Pekerjaan
Yang dimaksud adalah gambaran seberapa besar tekanan kondisi dan situasi
pekerjaan terhadap kualitas emosi/diri seorang pekerja. Hal itu
meliputi: hubungan dengan atasan langsung; keamanan pekerjaan;
bergesernya prioritas pekerjaan; terlalu banyak pekerjaan atau
membosankan; kontrol/pemantauan yang tidak luwes dari lembaga terhadap
pekerjaan; kebijakan promosi dan penghargaan karir yang tidak adil dari
pimpinan; tenggat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan; hilangnya
komitmen terhadap pekerjaan; merasa tidak berguna atau tidak mampu
bekerja; fleksibilitas jam kerja; perjalanan yang jauh ke tempat kerja.
3) Tekanan Masalah Pribadi
Skala ini mengungkapkan seberapa besar masalah-masalah pribadi menjadi
sumber ketertekanan dalam menjalani pekerjaan. Masalah-masalah ter-sebut
antara lain: kesulitan keuangan; bertambahnya tanggungjawab keluarga;
konflik dengan atau berpisah dari rekan/partner; menurunnya kesehatan
pri-badi; bermasalah dengan keluarga; tidak cukup waktu luang untuk
keluarga; lingkungan yang berbahaya atau tidak aman; konflik seksual;
konflik antara keluarga dan pekerjaan.
b. Keterampilan Emosi
Kategori ini menggambarkan profil seberapa besar kualitas seseorang dalam mengenali emosi dirinya, meliputi:
1) Kesadaran-diri Emosi
Berkaitan dengan kemampuan pikiran dan perasaan seseorang tentang diri
sendiri antara lain dalam hal: menyebutkan perasaan; mendengarkan
pera-saan sendiri; menyadari sepanjang waktu perasaan diri; menyatakan
kemarahan dengan tepat; mengetahui alasan kesedihan; menyaring pola
pikir orang lain dalam menilai diri sendiri; menikmati kehidupan emosi
sendiri; takut terhadap emosi orang lain; keinginan menjadi orang lain;
cermat memperhatikan peru-bahan fisik jika mengungkapkan emosi; menerima
perasaan diri apa adanya.
2) Ekspresi Emosi
Membiarkan orang lain tahu bila mereka bekerja dengan baik;
mengungkapkan emosi negatif; membiarkan orang lain tahu tentang
keinginan/kebutuhan; mengungkapkan penghargaan terhadap orang lain;
membiarkan orang lain tahu bila ada perasaan tidak enak yang mengganggu
pekerjaan; meminta tolong kepada orang lain saat memerlukan bantuan;
dalam interaksi dengan orang lain dapat merasakan perasaan mereka; tidak
berpura-pura melakukan apa saja agar tidak tampak tolol di depan orang
lain.
3) Kesadaran Emosi terhadap Oranglain
Dapat mengenali emosi orang lain dengan memperhatikan mata mereka; mudah
berbicara dengan orang yang tidak satu sudut pandang; memperhatikan
orang-orang yang memiliki kualitas positif; terdorong untuk menghibur
orang lain; berpikir tentang perasaan orang lain sebelum mengungkapkan
pandangan; selalu menjadi pendengar yang baik; dapat merasakan suasana
hati suatu kelompok; dapat membuat orang yang baru kenal berbicara
tentang mereka sendiri; dapat "membaca yang tersirat" ketika seseorang
berbicara; kemampuan mengetahui bagaimana perasaan orang lain; dapat
mengetahui perasaan seseorang kendati ia tidak bicara; dapat mengubah
ekspresi emosi tergantung dengan siapa berhadapan; dapat mengetahui
bila orang lain sedang merasa kesal.
c. Kecakapan Emosi
Kategori ini menggambarkan perilaku atau tujuan bertindak seseorang yang
berkaitan dengan pengelolaan dorongan emosi. Hal itu antara lain:
1) Intensionalitas
Dapat dengan mudah mengabaikan gangguan-gangguan apabila perlu
berkonsentrasi; mampu menyelesaikan hampir semua gagasan; tahu cara
mengatakan "tidak" ketika harus demikian; tahu cara menghargai diri
sendiri sesudah meraih suatu sasaran; dapat menyingkirkan dahulu
imbalan-imbalan jangka pendek demi sasaran-sasaran jangka panjang; dapat
memusatkan perhatian saya pada suatu tugas sampai selesai bila saya
harus demikian; menerima tanggung jawab atas pengelolaan emosi; ketika
berhadapan dengan suatu masalah, mengurusinya selekas mungkin; berpikir
tentang yang saya inginkan sebelum bertindak; dapat menunda kepuasan
pribadi demi sasaran yang lebih besar; dapat membicaraka permasalahan
dengan diri sendiri; tidak marah apabila dikritik; mengetahui penyebab
kemarahan.
2) Kreativitas
Memiliki gagasan proyek-proyek inovatif kepada lembaga; berpe-ran serta
dalam berbagai informasi dan gagasan; meramal masa depan untuk
memudahkan tujuan; memunculkan gagasan terbaik ketika sedang tidak
memikirkannya; mempunyai gagasan-gagasan cemerlang baik yang berupa
kilasan maupun yang tampak secara utuh; memiliki penginderaan yang baik
mengenai kapan suatu gagasan akan berhasil atau gagal; tergerak oleh
konsep-konsep yang baru dan tidak lazim; telah menerapkan proyek-proyek
inovatif di lembaga; tergerak oleh gagasan-gagasan dan solusi-solusi
baru; ahli dalam menggodok pemecahan masalah sampai menghasilkan
sejumlah pilihan.
3) Ketangguhan
Dapat pulih dengan cepat sesudah merasa kecewa; dapat mem-peroleh
dibutuhkan jika tekad sudah bulat; halangan atau masalah dapat telah
menghasilkan perubahan-perubahan tak terduga ke arah yang lebih baik;
mudah menunggu dengan sabar bila harus demikian; selalu ada lebih dari
satu jawaban yang benar; tahu cara memuaskan seluruh bagian dalam diri;
tidak suka menangguhkan suatu pekerjaan; tidak takut mencoba lagi bila
pernah gagal dalam pekerjaan yang sama; mampu memutuskan bahwa
masalah-masalah tertentu tidak berharga untuk dicemaskan; mampu
menyantaikan diri bila mulai tegang; dapat melihat sisi humor suatu
situasi; dapat mengesampingkan dahulu suatu masalah untuk mendapatkan
perspektif yang lebih baik; bila menghadapi suatu masalah perhatian
terpusat pada aspek-aspek yang dapat diperbuat untuk memecahkannya.
4) Hubungan Antar Pribadi
Dapat sedih bila kehilangan sesuatu yang penting; merasa nyaman bila
bersama seseorang yang terlalu dekat secara emosional; mempunyai
teman-teman yang dapat diandalkan dalam masa-masa sulit; banyak
menunjukkan rasa sayang kepada teman-teman; bila mempunyai masalah, tahu
harus pergi ke mana dan harus berbuat apa untuk mnemecahkannya;
keyakinan dan nilai-nilai yang dianut menuntun tindakan saya
sehari-hari; keluarga selalu siap bila dibutuhkan; yakin bahwa
teman-teman sungguh peduli sebagai pribadi; mudah mendapatkan teman;
tidak kesulitan bila harus menangis atau merasa sedih.
5) Ketidakpuasan Konstruktif
Sanggup berbeda pendapat dengan efektif untuk mengubah sesuatu;
mengungkapkan perasaan meskiupun hal itu akan menimbulkan perbedaan
pendapat; apabila suatu masalah datang merasa percaya diri sendiri untuk
menyelesaikannya; tetap tenang bahkan dalam situasi yang membuat orang
lain marah; tidak takut membuat masalah meskipun dapat menghindarinya;
mudah mencapai kata sepakat dengan rekan-rekan kerja; mencari umpanbalik
menge-nai kinerja diri; ahli dalam mengorganisasi dan memotivasi sebuah
kelompok; senang menghadapi tantangan dan memecahkan masalah dalam
pekerjaan; mendengarkan kritik dengan pikiran terbuka dan menerimanya
bila dapat dibenarkan; membiarkan masalah mencapai titik kritis sebelum
membicar-akannya; bila melontarkan komentar yang kritis perhatian
terpusat pada perilaku bukan pada orangnya; tidak menghindari
konfrontasi bila berhadapan dengan masalah.
d. Nilai-nilai EQ dan Keyakinan
Kategori ini menggambarkan perilaku atau tujuan bertindak seseorang yang
berkaitan dengan pengelolaan dorongan emosi yang berhubungan dengan
nilai-nilai keyakinan (belief). Termasuk ke dalam kategori ini adalah:
1) Belas Kasihan
Mampu melihat rasa sakit pada orang lain meskipun mereka tidak
membicarakannya; dapat membaca emosi orang lain dari bahasa tubuh
mereka; bertindak menurut etika dalam berurusan dengan orang lain; tidak
akan ragu meninggalkan kesibukan guna menolong orang yang kesulitan.;
memperhitung-kan perasaan orang lain dalam interaksi dengan mereka;
dapat menempatkan diri dalam kedudukan orang lain; tidak ada orang yang
tidak pernah/sulit dimaafkan; mudah memaafkan karena diri tidak
sempurna; membantu orang lain menjaga harga dirinya dalam situasi sulit;
tidak begitu mencemaskan kekurangan-kekurangan diri; tidak iri kepada
orang yang lebih mampu.
2) Sudut Pandang
Melihat sisi positif pada segala sesuatu; mencintai kehidupan;
mengetahui dan dapat menemukan solusi atas masalah yang sulit; percaya
bahwa segala sesuatu biasanya membaik dengan sendirinya; tidak merasa
frustasi dalam hidup meskipun banyak orang yang ingkar janji; menyukai
diri apa adanya; melihat tantangan sebagai peluang untuk belajar;
meskipun di bawah tekanan, percaya akan mendapatkan sebuah pemecahan.
3) Intuisi
Terkadang mendapat jawaban yang benar bagi suatu persoalan tanpa alasan
yang jelas; firasat biasanya benar/terbukti; dapat menggambarkan
sasaran-sasaran di masa datang; ketika merancang atau mengerjakan
sesuatu sudah dapat melihat produk atau gambaran akhir meskipun saat ini
belum selesai; percaya dengan impian sendiri meskipun orang lain tidak
dapat me-lihat atau memahami semua itu.; ketika dihadapkan dengan
pilihan yang sulit, dapat dengan mudah mengikuti kata hati; jarang
mengubah tekad yang sudah bulat; diakui orang bahwa dapat meramal atau
memiliki firasat yang tajam; tidak sulit menerima pandangan yang
berbeda; mengandalkan dorongan hati ketika membuat keputusan.
4) Radius Kepercayaan
Percaya bahwa orang tidak akan memanfaatkan dirinya begitu saja; menaruh
kepercayaan tanpa terlalu terikat dengan alasan; siapa pun mudah untuk
dipercaya; menghormati siapa pun; mungkin saja imbalan orang lain layak
lebih baik; mempercayai rekan dekat dalam pekerjaan; merasa bisa berbuat
banyak; dalam hidup ini banyak yang adil atau layak; mencoba mengatasi
masalah dengan rencana alternatif; ketika bertemu dengan orang-orang
baru, banyak informasi pribadi yang diungkapkan kepada mereka.
5) Daya Pribadi
Merasa dapat membuat apa pun terjadi; memandang bahwa nasib tidak begitu
berperan penting dalam hidup; demi perbaikan mampu menentang hierarki
yang mapan di tempat bekerja; merasa bahwa keadaan masih dapat
dikendalikan; tidak begitu membutuhkan pengakuan dari orang lain atas
karya sendiri; mudah menyukai sesuatu; tidak sulit menerima pujian;
merasa mempunyai kemampuan untuk mendapatkan yang diinginkan; merasa
dapat mengendalikan hidup; tidak merasa takut dan lepas kendali apabila
segala sesuatu berubah dengan cepat; senang bertanggung jawab atas
sesuatu; tahu yang diinginkan kemudian setelah memperoleh yang lain.
6) Integritas
Senantiasa bersedia mengakui kesalahan yang diperbuat; tidak merasa
seperti seorang penipu, pengecoh atau pembohong; siap pindah kerja jika
tidak bersemangat lagi dengan pekerjaan; memandang pekerjaan sebagai
perpanjangan dari sistem nilai pribadi; berupaya keras untuk tidak
pernah berbohong; tidak bisa menerima suatu situasi yang tidak
mempercayai dirinya; tidak membesar-besarkan kemampuan karena ingin
memperoleh kesempatan yang lebih baik; senantiasa berterus terang
meskipun yang dihadapi sangat sulit; tidak bisa mengerjakan sesuatu
pekerjaan yang bertentangan dengan keyakinan.
d. Hasil-hasil EQ
Kategori ini berkaitan dengan peristiwa-peristiwa kedirian seseorang
yang diduga kuat sebagai konsekuensi dari kualitas EQ yang bersangkutan.
Meliputi hal-hal sebagai berikut.
1) Kesehatan Secara Umum
a) Gejala-Gejala Fisik yang Sering Dirasakan:
Seberapa sering mengalami hal-hal berikut adalah ukuran kualitas
kesehatan fisik secara umum; yaitu nyeri punggung bukan karena cedera;
mengalami masalah berat badan (kelebihan atau kekurangan); sakit kepala
karena tegang; sakit kepala karena migren; pilek atau gangguan
pernafasan bukan karena perubahan cuaca/asma; mengalami masalah perut
(kembung atau tidak normal buang air besar); nyeri dada bukan karena
cedera; sakit dan nyeri pada bagian tubuh yang sulit dijelaskan; nyeri
atau sakit kronis lain selain yang telah dijelaskan.
b) Gejala-Gejala Perilaku yang Sering Muncul:
Seberapa sering mengalami hal-hal berikut adalah ukuran kualitas
perilaku sehat secara umum; yaitu mengalami masalah yang berhubungan
dengan makan (hilang selera, tidak teratur, terus menerus); merokok
dalam kapasitas di luar kebiasaan selama ini; minum minuman beralkohol;
minum obat penenang; minum aspirin atau obat penghilang rasa sakit
(nyeri) lain; kebiasaan minum obat-obat lain; menarik diri dari hubungan
dekat dengan pihak/orang lain; mengkritik, menyalahkan atau melecehkan
orang lain; merasa menjadi korban atau dimanfaatkan oleh orang lain;
kecanduan menonton TV (> 2 jam sehari); melakukan kegiatan
rekreatif/bermain lebih dari 2 jam sehari; tidak menyukai campur tangan
orang lain; kerap mengalami kecelakaan fisik/cedera
c) Gejala-Gejala Emosi:
Seberapa sering mengalami hal-hal berikut adalah ukuran kualitas
kesehatan jiwa secara umum; yaitu sulit berkonsentrasi; merasa kelebihan
beban pekerjaan; perhatian mudah teralihkan; tidak mudah melupakan
sesuatu yang berkesan negatif/terus cemas; merasa depresi, kesal atau
putus asa; merasa kesepian; pikiran terasa kosong; merasa letih atau
kelebihan beban; sulit memantapkan hati atau membuat keputusan; sulit
memulai suatu kegiatan/sulit menenangkan diri untuk memulai suatu
kegiatan
2) Kualitas Hidup
Merasa puas sekali dengan hidup yang dijalani saat ini; merasa kuat
sehat dan bahagia; merasakan kedamaian dan kesejahteraan di dalam hati;
tidak terlalu merasa perlu membuat banyak perubahan dalam hidup agar
betul-betul bahagia; hidup dirasakan dapat memenuhi kebutuhan yang
paling dalam; mendapatkan lebih banyak dari pada yang diharapkan dari
hidup ini; menyukai diri sebagaimana adanya; bekerja terasa
menyenangkan; merasa telah menemukan pekerjaan yang bermakna; merasa
berada dalam jalur yang mengantarkan kepada kepuasan; merasa telah
mengerahkan sebagian besar kemampuan diri.
3) Relationship Quotient
Terdapat sejumlah orang yang berhubungan (relation) pada tingkat lebih
dalam; jujur kepada orang-orang yang akrab sebagaimana mereka pun jujur
kepada dirinya; menyayangi seseorang secara mendalam; mudah mene-mukan
orang-orang yang dapat diajak bergaul; dapat membuat komitmen jangka
panjang dengan siapa saja untuk suatu hubungan; menyadari bahwa dirinya
bermakna/ penting bagi banyak orang; merasa mudah mengatakan kepada
orang-orang bahwa dirinya peduli kepada mereka
4) Kinerja Optimal
Merasa puas dengan kinerja saat ini; rekan-rekan kerja memandang bahwa
diri kita memudahkan komunikasi yang baik di antara anggota kelompok;
tidak merasa terkucil dalam pekerjaan; mudah mengerahkan perhatian pada
tugas yang harus dikerjakan; dalam tim kerja, dilibatkan dalam pembuatan
keputusan; tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi komitmen atau
menyelesaiakan tugas; terus berusaha meningkatkan kinerja diri agar
dapat menghasilkan yang terbaik.
III. Diskusi, Temuan Terdahulu dan Pembahasan
Pada bagian ini penulis memandang penting untuk terlebih dahulu
menjelaskan istilah profesional pada kata Guru Profesional. Istilah
profesional pada tulisan ini tidak merujuk kepada penggunaan istilah
tersebut pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) -yang
seringkali menimbulkan kerancuan dalam wacana dilapangan - yang
menyatakan "Pendidikan tinggi terdiri dari pendidikan akademik dan
pendidikan profesional." Yang dimaksud dengan pendidikan akademik adalah
pendidikan yang sebagian besar porsinya ditujukan untuk penguasaan dan
pengembangan ilmu dengan bobot keterampilan yang lebih sedikit.
Pendidikan akademik adalah program gelar (Sarjana/S-1, Magister/S-2,
Doktor/S-3) yang diselenggarakan oleh sekolah tinggi, institut, dan
universitas. Di pihak lain, pendidikan profesional adalah pendidikan
yang bobot pembekalan keterampilannya lebih banyak dari pada penguasaan
teori atau konsep karena memang peserta didik disiapkan untuk mengisi
pekerjaan-pekerjaan yang ada dalam masyarakat.
Dalam istilah lain disebut juga pendidikan non-gelar. Pendidikan
profesional diselenggarakan oleh akademi dan politeknik dalam bentuk
program Diploma, juga oleh sekolah tinggi, institut, dan universitas.
Pengertian ini mengundang tafsiran yang rancu sekan-akan pendidikan
akademik tidak menyiapkan lulusannya siap kerja dan profesional. Oleh
karenanya, guru profesional atau pendidikan profesional dalam makalah
ini dimaksudkan sebagai lulusan pendidikan yang selain memiliki
keterampilan khusus juga meliputi dimensi penguasasaan keilmuan, social,
etik/moral, serta nilai-nilai kemanusiaan dari suatu pekerjaan. Tidak
jadi soal apakah ia lulusan program diploma atau program strata (S1, S2
atau S3).
Jika kita cermati sejumlah karakteristik guru profesional sebagaimana
dikemukakan pada halaman-halaman terdahulu, di samping berkaitan dengan
hal-hal yang bersifat akademis dan keterampilan akan ditemukan beberapa
pernyataan yang lebih kental nuansa moral-psikologisnya misalnya:
tanggung jawab, memiliki kepribadian yang matang dan berkembang,
bermoral, spiritual, komitmen terhadap kepentingan siswa, mampu berpikir
reflektif dan korektif, serta memiliki kepribadian yang efektif.
Karakter guru profesional yang demikian itu jelas sangat diperlukan ada
pada diri guru (SD) sebagai modal utama dalam menghadapi tantangan
kekinian dan masa depan yang makin kompleks: kepesatan perkembangan
iptek, persaingan hidup dan karir yang semakin garang dan tajam, serta
tuntutan kualitas hidup dan pendidikan di tengah-tengah masyarakat yang
makin tinggi.
Oleh karenanya maka penyelenggaraan program pendidikan untuk calon guru
-khususnya guru SD - oleh LPTK harus diarahkan pada upaya mempersiapkan
guru yang cakap secara profesional serta memiliki kematangan pribadi
dengan kecerdasan emosi yang memadai dan tangguh. Berdasarkan hal itu,
dapat diasumsikan bahwa untuk menghasilkan pencapaian tersiapkannya
calon guru (SD) yang professional yang mampu mengantisipasi tuntutan
kompleks masa kini dan masa depan, maka harus dirancang sedemikian rupa
suatu layanan managerial yang dapat berfungsi memfasilitasi perkembangan
kecerdasan emosional para mahasiswa calon guru tersebut; terutama yang
menyangkut kecerdasan dalam menghadapi dan mengatasi berbagai problema
pencapaian kesuksesan karir atau prestasi belajar, yang dikenal dengan
kecerdasan eksekutif (EQ-Executive).
Gagasan perlunya LPTK secara terprogram mematangkan kepribadian dan
kecerdasan emosi para mahasiswa calon guru (SD) bukan sesuatu yang
mengada-ada melainkan juga didasarkan pada hasil analisis berbagai
literature. Berbagai informasi menunjukkan bahwa salah satu alasan umum
yang dapat memicu timbulnya perilaku menyimpang dari seseorang -
termasuk guru - dalam memberikan reaksi terhadap lingkungan, semisal
pesismis dan konsep diri yang negatif, pada umumnya bukan karena
rendahnya kualitas skill dan kemampuan akademis semata, melainkan karena
mereka tidak memiliki kematangan kepribadian atau kecerdasan emosinya
kurang; misalnya rendahnya kemampuan (skill) untuk mencapai apa yang
diinginkan (need for achievement) atau rentannya kesiapan psikologis
mereka dalam berhadapan dengan imbalan (reward) yang tertangguhkan; atau
mereka itu memiliki internal locus of control (kemandirian) yang lebih
rendah dibandingkan dengan kecenderungan external locus of control
(ketergantungan kepada yang lain) dalam dirinya (Asmawi Zainul,
1999:13).
Goleman (1998) memperkuat bahwa perilaku-perilaku menyimpang yang
disebabkan oleh rendahnya kecerdasan emosional (Emotional Intelligence)
mereka berkaitan dengan ketidakmatangan kondisi psikologis yang
bersangkutan dalam hal: memotivasi diri dan bertahan menghadapi
frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan
kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak
melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa. Dengan kata lain,
perilaku menyimpang baik dari para remaja (termasuk mahasiswa) maupun
kaum profesional (guru) mengindikasikan betapa rendahnya Kecerdasan
Emotional mereka.
Dari sejumlah penelitian yang telah dilakukannya Goleman berkesim-pulan
bahwa kesuksesan karir seseorang 80% ditentukan oleh kecerdasan emosi
(EQ)-nya. Berdasarkan sejumlah hasil penelitian tersebut, bahkan
terbukti bahwa Kecerdasan Pikiran (IQ) atau Kecerdasan Akademis
semata-mata praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi gejolak
yang ditimbulkan oleh kesulitan-kesulitan hidup. Oleh karenanya, ia
mengingatkan bahwa dalam institusi pendidikan (formal maupun informal)
perlu dibangun suatu mekanisme yang cukup efektif dalam menciptakan
kondisi emosional yang kondusif (Goleman,1998:47).
Robert K Cooper & Ayman Sawaf (2001) pada bagaian pendahuluan dari
bukunya (Executive EQ) menegaskan bahwa jika pada abad 20 kesuksesan
profesi seseorang diasumsikan sangat ditentukan oleh IQ, maka
berdasarkan bukti-bukti yang banyak di penghujung abad 21, dapat
ditegaskan bahwa kesuksesan seseorang dalam menghadapi tugas-tugas
kehidupan adalah ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ). Lebih
spesifik lagi keduanya mengenalkan 'Executive EQ' sebagai variabel
penting bagi kesuksesan profesi seseorang. Jika kita memandang tugas
mendidik dari seorang guru merupakan suatu wujud tugas eksekutif dalam
pengertian professional yang menuntut kompetensi dan kredibilitas
tertentu maka pikiran Robert K Cooper & Ayman Sawaf sangat layak
untuk dipertimbangkan oleh para pengelola LPTK yang mempersiapkan calon
guru (SD).
Landasan empirik lainnya bagi hal ini adalah hasil penelitian serial
selama tidak kurang dari dua puluh tahun dari John Gottman (1998), yang
dilakukan terhadap tidak kurang dari 119 keluarga, yang menemukan
bukti-bukti kuat bahwa mereka yang memiliki EQ yang relatif baik, mampu
memperoleh nilai akademis yang lebih tinggi, mampu bergaul lebih baik,
tidak banyak mengalami masalah tingkah laku, dan tidak mudah terpancing
untuk melakukan tindak kekerasan bila dibanding-kan dengan anak-anak
yang orangtuanya tidak mempraktekkan hal semacam itu. Teori dan bukti
empiris Kecerdasan Emosional (EQ) memberikan harapan dan optimisme baru
terhadap pengembangan kualitas profesi kependidikan, khususnya di
lingkungan LPTK.
Persoalan selanjutnya adalah, dengan cara bagaimana pembinaan calon guru
(SD) yang profesional dan memiliki kecerdasan emosi di lakukan di LPTK.
Dengan mengadaptasi sebagian gagasan HAR Tilaar (1999:368-378), Dedi
Supriadi (1999) berikut adalah hal-hal yang perlu dipertimbangan untuk
menjawab persoalan tersebut.
Pertama, perlu dipelihara dan ditingkatkan ekologi kampus yang kondusif
bagi penyelenggaraan perkuliahan yang demokratis, menjunjung tinggi hak
asasi manusia (mahasiswa), kemudahan mengakses informasi, mendorong
perkembangan ilmu dan teknologi, serta menanamkan kegandrungan terhadap
orientasi kualitas dalam berbagai segi kehidupan (kampus).
Kedua, memelihara dan meningkatkan kondisi kampus yang memberda-yakan
mahasiswa. Ada empat modal dasar yang berperan dalam proses pemberdayaan
mahasiswa di dalam kampus yaitu dosen, mahasiswa, tenaga administratif,
dan sarana pendukung. Keempat komponen ini saling kait-mengkait dalam
memberdayakan mahasiswa dengan dukungan birokrasi kampus yang 'cair'
(tidak kaku); semangat inovatif dan eksploratif dosen yang tetap akrab,
ramah, santun namun tetap tegas; mengembangkan dan mendukung penalaran
kritis mahasiswa; menjunjung tinggi disiplin; beorientasi pada kualitas;
dan penyediaan sarana yang memadai.
Ketiga, adanya usaha intensif, terorganisir dan terus menerus untuk
terjadinya kolaborasi antara para guru (calon guru) sehingga terjadi
berbagi pengalaman dalam hal cara-cara menguasai dan mengimplementasikan
prinsip-prinsip pedagogi secara umum maupun didaktik-metodik secara
khusus yang berlaku pada setiap mata pelajaran.
Keempat, Jika kita mensepakati bahwa unsure emosi yang paling asasi
dalam mendidik adalah kasih sayang, maka sejak mereka (calon guru)
memasuki dunia perkuliahan di LPTK, biasakan sejak dini mereka memasuki
pembelajaran dengan Pedagogi Kasih Sayang. Pesan ini merujuk kepada
falsafah belajar dalam Islam yang sejak awal menyuruh belajar (membaca)
dengan atas nama Tuhan. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw
berbunyi "Bacalah! Dengan nama Tuhanmu. . ." Sedangkan nama tuhan yang
pertama dikenalkan kepada manusia dan terdapat dalam hampir seluruh
surat al-Quran adalah "Ar-rohman dan Ar-rohim, Yang Maha Kasih dan Maha
Sayang". Benar apa yang dikatakan Federico Mayor, mantan Mentri
Pendidikan Spanyol, ". . . There is only one pedagogy . .the pedagogy of
love" (hanya ada satu pedagogi. yaitu pedagogi kasih sayang). Dasar
pendidikan adalah kasih sayang, cinta kasih yang tulus. Kalau guru sudah
kehilangan kasih sayang kepada muridnya, maka saat itulah pendidikan
mulai kehilangan jati dirinya. Ironisnya, hampir selama tiga dasawarsa
terakhi, para calon guru di LPTK sejak awal lebih sering bersentuhan -
bahkan bergaul - dengan ilmu pendidikan 'modern' yang mulai kehilangan
sentuhan kasih sayang dan kepekaannya pada anak manusia. Pendekatan,
model, metode, teknik dan bahkan instrumen pembelajaran yang diajarkan
kepada mahasiswa calon guru (SD) sangat kental merujuk kepada aliran
Behavioristik yang memandang manusia sebagai sebuah mesin (homo
mechanicus) yang sepenuhnya dikendalikan oleh lingkungan.
Kelima, kehidupan kampus (interaksi mahasiswa di dalamnya, termasuk
perkuliahan) harus dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi miniatur
kehidupan realistik tempat mereka mengelola, mengaktualisasikan, dan
mema-tangkan perkembangan emosinya secara sehat. Adalah sangat penting
adanya institusi dalam LPTK yang secara terencana dan periodik melakukan
studi dan memantau profil serta perkembangan emosi mahasiswa calon guru
(SD). Dari hasil studi ini kemudian dilakukan kegiatan, pembinaan atau
pelatihan-pelatihan khusus untuk mematangkan perkembangan kecerdasan
emsosi mereka.
IV. Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Guru (SD) masa kini dan masa depan tengah dan akan selalu berhadapan
dengan tantangan perkembangan zaman yang kian berat dan kompleks. Untuk
itu para guru harus memiliki dua kompetensi yaitu karakter guru
profesional dan modal kecerdasan emosi yang memadai serta tangguh. Kedua
kompetensi tersebut harus sejak dini dibekalkan oleh institusi
penghasil calon guru (LPTK) melalui:
(1) penciptaan ekologi kampus yang demokratis, humanis-religius, ilmiah, dan berorientasi pada kualitas;
(2) penciptaan kampus yang memberdayakan mahasiswa;
(3) memfasilitasi terjadinya kolaborasi antara para guru (calon guru) sehingga terjadi berbagi pengalaman;
(4) melibatkan mahasiswa sejak dini dan secara intens ke dalam pedagogi kasih sayang dalam pengelolaan pembelajaran; dan
(5) mencipatakn lingkungan kampus serta melakukan studi dan layanan bagi
upaya pengenalan dan pengembangan profil kecerdasan emosi mahasiswa
calon guru (SD).
B. Saran
Dalam mengahiri makalah ini penulis mengajukan beberapa saran terkait
dengan mempersiapkan calon guru (SD) yang profesional serta memiliki
kecerdasan emosi yang memadai. Saran-saran tersebut adalah sebagai
berikut.
1. Penyiapan guru profesional dengan kecerdasan emosi yang memadai harus
dimulai sejak masa rekruitmen (penerimaan) calon mahasiswa guru SD.
Materi, instrument, dan cara seleksi calon mahasiswa harus merujuk
kepada karakteristik dan standar dari profil guru profesional dan
kecerdasan emosi.
2. Para mahasiswa calon guru (SD) selama menjalani pendidikan selain
menjalani pembinaan wawasan, karakter, dan profil calon guru profesional
ia jua harus secara intensif dievaluasi secara periodik apakah selama
menjalani pendidikan yang bersangkutan mampu menunjukkan sejumlah
karakter guru profesional. Evaluasi untuk hal itu sudah barang tentu
tidak cukup dengan 'paper-pencil test' semata-mata. Sistim penilaian
dengan instrumen asesmen yang dipadukan dengan program magang
terstruktur di sekolah dasar yang variatif bagi calon guru SD akan
lebih tepat dari pada pola Program Pengalaman Lapangan (PPL) yang selama
ini berjalan. Terkait dengan itu, sejak dini mahasiswa harus
difasilitasi agar terlibat aktif dalam suatu wadah/organisasi profesi
keguruan.
3. Perkuliahan yang berkaitan dengan ilmu mendidik atau metode
pembelajaran semestinya diperkaya dengan kajian-kajian literature yang
lebih dominan nuansa humanistis, spiritual, moral, dan kecerdasan emosi.
4. Setiap LPTK penghasil calon guru (SD) hendaknya memiliki institusi
yang bertugas khusus secara periodik melakukan studi/penelitian untuk
mengungkap profil dan perkembangan kecerdasan emosi mahasiswa calon guru
(SD). Hasil studi ini menjadi bahan masukan dan pembinaan lebih lanjut
bagi mahasiswa yang bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA
Asmawi Zainul. (1998). Locus of Control, Self-Esteem, dan Tes Baku.
Jurnal Pendidikan: Mimbar Pendidikan. No. 3. Tahun XVII. 1998. Halaman
12-18. Bandung: University Press IKIP Bandung.
Bobbi DePorter & Mike Hernacki. (1999). Quantum Learning:
Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. (Terj.). Bandung: Penerbit
Kaifa.
Dedi Supriadi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
Robert K Cooper & Ayman Sawaf. (2001). Executive EQ: Kecerdasan
Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka.
Goleman, D. (1998). Emotional Intelligence: Kecerdasan Emotional,
Mengapa EI lebih penting dari IQ. (Terj.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
H.A.R Tilaar. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional:Dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Penerbit Tera Indonesia.
Jalaluddin Rakhmat. (1999). Sabar: Kunci Kecerdasan Emotional. Buletin
Dakwah Al-Tanwir No. 140 Edisi 25 Mei 1999. Bandung: Muthahari Press.
-----------------. (1993). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Mohammad Surya. (2003). Percikap Perjuangan Guru. Semarang: CV Aneka Ilmu.
Moh. Zen. (1999). Faktor-faktor Determinatif Perilaku Menyimpang di
Kalangan Remaja. Jurnal Pendidikan: Mimbar Pendidikan. No. 2. Tahun
XVIII. 1999. Halaman 52-60. Bandung: University Press IKIP Bandung.
Piet A. Sahartian. (1994). Profil Pendidik Profesional. Jogyakarta: Andi Offset.
Shapiro, L.E. (1998). Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak. (Terj.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Saya Edi Hendri Mulyana setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang
dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa
bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
CATATAN:
Artikel-artikel
yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh
penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan
sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar